Minggu, 13 Januari 2013

Mata kuliah Bahsa&Sastra Indonesia


PRAGMATIK

A.     SEJARAH ILMU PRAGMATIK
Ø  PADA TAHUN 1930-AN  LINGUISTIK YANG MUNCUL PADA TATARAN FONETIK, FONEMIK, DAN MORFOLOGI. PADA TATARAN LINGUISTIK DESKRIPTIF  MUNCUL KAJIAN IHWAL KALIMAT DAN MAKNA.
Ø  PADA TAHUN 1950-AN  BERKEMBANG TEORI LINGUISTIK TRANFORMASIONAL (NOAM CHOMSKY) BERKEMBANGLAH ILMU SINTAKSIS DAN TATA KALIMAT
Ø  PADA TAHUN 1960-AN  J. KATZ MEMASUKAN SEMANTIK  (MAKNA) KE DALAM  LINGUISTIK
Ø  PADA TAHUN 1970-AN, LINGUISTIK YANG BERCORAK PEMIKIRAN TRANSFORMASI GENARATIF (ROSS & LAKOFF) MENYATAKAN KAJIAN IHWAL SINTAKSIS TIDAK DAPAT DIPISAHKAN DARI  KONTEKS SITUASI PERTUTURANNYA.
Ø  PEMISAHAN  TERHADAP KONTEKS SITUASI PERTUTURAN PADA ANALISIS SINTAKSIS KHUSUSNYA, MAUPUN KORPUS LINGUISTIK UMUMNYA TIDAK AKAN MENGHASILKAN TEMUAN ATAU RISET YANG BERKUALIFIKASI SINGNIFIKAN.
Ø  MAKA  SEJAK SAAT ITU LAHIRLAH ILMU BAHASA  PRAGMATIK
B.     Pengertian Pragmatik
Ø  Goerge (1964) ilmu bahasa pragmatik adalah  ilmu tentang makna dalam kaitannya dengan keseluruhan perilaku umat manusia dan tanda-tanda atau lambang-lambang bahasa yang ada di sekelilingnya.
Ø  Morris (1938) mendefinisikan pragmatik sebagai bidang bahasa yang mempelajari relasi antara lambang-lambang bahasa dengan para penafsirnya.
Ø  Lavinson (1983) mendefinisikan pragmatik  sebagai studi perihal ilmu bahasa  yang mempelajari relasi-relasi  antara bahasa dengan konteks tuturannya.
Pragmatics is the study of those relations between language and context that are grammaticalized, or encoded in the structure of a language (Lavinson, 1983:9)
Ø  Parker (1986) dalam bukunya Linguistics for Non-Linguistics menyatakan bahwa pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur  bahasa secara eksternal, yang harus dikaitkan dengan konteks. Pragmatics is distinct from grammar, which is the study of the internal structure of language. Pragmatics is the study of how language is used to communicate.
Ø  Jakob L. Mey (1983) pragmatics  is the study of the condisions of human language use as these are determined by the context of society (Mey, 1993:42). Pragmatik adalah ilmu bahasa yang mempelajari pemakaian bahasa yang ditentukan oleh konteks situasi tuturan di dalam masyarakat.
Ø  Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pragmatik adalah ilmu bahasa yang mengkaji maksud penutur di dalam konteks situasi  dan lingkungan sosial budaya tertentu. 
Ø  Pragmantik sejajar dengan semantik, yaitu ilmu bahasa yang  mengkaji makna bahasa. Semantik mengkaji makna bahasa secara internal, pragmatik secara eksternal.
Ø  Pragmatik  bersifat terikat konteks (context dependent) sementara semantik bebas konteks (context independent). Makna yang dikaji bersifat diadik (diadic meaning), sedangkan pragmatik bersifat tiadik (triadic meaning).  Pragmatik mempelajari bahasa untuk memahami maksud penutur. Semantik  mempelajari makna sebuah satuan lingual.
C.      Konteks situasi pertuturan
Ø  Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan dalam komunikasi.
Ø  Pragmatik adalah studi ilmu bahasa yang mendasarkan pijakan analisisnya pada konteks situasi tuturan yang ada di dalam masyarakat dan wahana kebudayaan yang mewadahinya.
Ø  Konteks situasi yang dimaksud menunjuk pada aneka macam kemungkinan latar belakang pengetahuan bersama antara pembicara dan pendengar dan pengetahuan tersebut mengarah pada interpretasi suatu tuturan serta aspek nonkebahasaan lainnya.Konteks semacam itu disebut konteks situasi pertuturan
D.     Penutur dan lawan tutur
Penutur  = pembicara (Speaker) dilambangkan S
Lawan tutur/mitra tutur = pendengar (Hearer) dilambangkan H
Aspek yang perlu dicermati pada diri penutur dan mitra tutur diantaranya jenis kelamin, umur, daerah asal, dan latar belakang keluarga serta latar belakang sosial budaya lainnya yang memungkinkan menjadi penentu hadirnya makna sebuah pertuturan
E.      Konteks tuturan
Koteks tuturan dapat mencakup aspek-aspek tuturan yang relevan, baik secara fisik maupun nonfisik.
Konteks tuturan dapat pula diartikan semua latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang diasumsikan sama-sama dimiliki dan dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksud oleh si penutur itu di dalam keseluruhan proses tuturan.
F.      Tujuan tuturan
Ø  Ihwal tujuan tuturan berkaitan erat dengan bentuk-bentuk tuturan yang digunakan seseorang. Pada dasarnya tuturan dari seseorang akan muncul karena dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tuturan yang sudah jelas dan tertentu sifatnya.
Ø  Secara pragmatik, satu bentuk tuturan akan memungkinkan memiliki maksud dan tujuan yang bermacam-macam. Sebaliknya, satu maksud atau tujuan dapat diwujudkan dengan bentuk tuturan yang bermacam-macam.
Ø  Leech (1983) menggunakan istilah tujuan tuturan karena dianggap lebih netral dan lebih umum sifatnya, tidak berkaitan dengan kemauan atau motivasi tertentu.
G.      Tuturan sebagai bentuk tindakan
Tuturan sebagai bentuk tindakan atau wujud dari sebuah aktivitas linguistik merupakan bidang pokok yang dikaji dalam ilmu bahasa pragmatik.
Pragmatik mempelajari tindak verbal yang sungguh-sungguh terjadi dalam situasi dan suasana pertuturan tertentu.
H.     Tuturan sebagai produk tindak verbal
Ø  Tuturan dapat dipandang sebagai produk dari tindak verbal dalam aktivitas bertutur sapa.
Ø  Proses pertuturan adalah hasil atau produk dari tindakan verbal dari para pelibat tuturan, dengan segala macam pertimbangan konteks situasi.
Ø  Tuturan atau ujaran tidak dapat disamakan begitu saja dengan kalimat. Kalimat adalah produk struktural/gramatikal, sedangkan tuturan adalah hasil/produk tindakan verbal yang hadir dalam proses pertuturan.
Ø  Contoh “Ada Anjing” tidak diartikan semata-mata ada sosok binatang anjing di situ, dapat dijadikan alat untuk menyuruh berhenti bermain pada anak kecil.
Ø  Searle (dalam Wijana 1969) mengatakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh
seorang penutur, yaitu tindak lokusi, tindak ilokusi dan tindak perlokusi.
Ø  Tindak lokusi adalah tindak tutur yang digunakan untuk menyatakan sesuatu
Ø  Tindak ilokusi adalah tindak yang digunakan selain untuk menyatakan sesuatu juga digunakan untuk melakukan sesuatu.
Ø  Tindak perlokusi adalah tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tutur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar